VIRAL!!! Motor Naik Trotoar, Korlantas “Face to Face” dengan Pelanggar

Padatnya arus lalu lintas di kota besar seringnya membuat orang tergesa-gesa dan main potong langkah. Ujung-ujungnya pelanggaran pun terjadi sehingga mengambil hak orang lain. Contohnya seperti yang viral di media sosial ini.

 

Sebuah aksi tertangkap kamera pada Selasa, 12 Maret 2019 pada pukul 17.30 WIB lalu tepatnya di trotoar RSPP Pertamina, Kebayoran Baru. Saat itu, Bapak Direktur Penegakan Hukum atau Dir Gakum Korlantas Polri Brigadir Jenderal Polisi Drs Pujiyono Dulrachman, MH langsung melakukan penindakan di lokasi. Face to face!

 

“Kamu pilih cepat tapi ke rumah sakit,
atau lambat tapi selamat!”

 

Brigadir Jenderal Polisi Drs Pujiyono geram dengan perilaku para pengemudi sepeda motor yang mengambil hak utama pejalan kaki tersebut. Terlihat di video yang viral tersebut, seorang pengendara menaiki trotoar dan diberhentikan.

“Kamu pilih cepat tapi ke rumah sakit, atau lambat tapi selamat!” tekannya saat mendapati sekian pelanggar yang kemudian bersama jajarannya dikumpulkan di salah satu area dan diberi imbauan.

Sebagaimana diketahui bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 131 sudah menekankan aturan atas pelanggaran semacam ini.

“Bahwa pejalan kaki berhak atas ketersedian fasilitas pendukung seperti trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain”.

Makanya, beliau turun dari kendaraan dinasnya dan langsung menindak para pelanggar tersebut untuk diberikan pembinaan dan penyuluhan serta pendidikan masyarakat bidang lalu lintas.

Perlu diketahui bahwa ancaman sanksi bagi pelanggar atau menggunakan trotoar sebagaimana mestinya antara lain diatur didalam Pasal 274 ayat 2.

 

“… dipidana dengan penjara paling lama satu tahun
atau denda paling banyak Rp 24 juta”

 

“Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi kelengkapan jalan dipidana dengan penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.”

Nah loh! Aturan lainnya juga tertera di pasal lain, yakni Pasal 275 ayat 1 untuk undang-undang yang sama. Menurut aturan tersebut, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna jalan akan dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.

Hingga saat ini, video tersebut sudah beredar di media sosial, termasuk di akun Instagram Bro Ron dari DuniaMotor.com. Video itu pun saat ini sudah ditonton puluhan ribu kali. Penting banget ni, Brad.

 

TONTON VIDEO-NYA:

View this post on Instagram

Memberantas #mogearogan . . Reposted from @indukpjrbitung002 – Selasa, 12 Maret 2019 pada pukul 17.30 WIB bertempat di dijalan trotoar RSPP Pertamina Kebayoran Baru, Bapak Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri (Brigadir Jenderal Polisi Drs. Pujiyono Dulrachman, MH), geram terhadap perilaku para pengemudi sepeda motor yang mengambil hak utama pejalan kaki. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa didalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan didalam Pasal 131 disebutkan "Bahwa pejalan kaki berhak atas ketersedian fasilitas pendukung seperti trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain". Sehingga beliau turun dari kendaraan dinasnya dan langsung menindak para pelanggar tersebut untuk diberikan pembinaan dan penyuluhan serta pendidikan masyarakat bidang lalu lintas. Perlu diketahui bahwa ancaman sangsi bagi pelanggar atau menggunakan trotoar sebagaimana mestinya antara lain diatur didalam Pasal 274 ayat 2 " Dimana setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi kelengkapan jalan dipidana dengan penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta" Dan pada Pasal 275 ayat 1 "Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan, dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000". – #regrann

A post shared by Ronald Sinaga Official (@brorondm) on