Tabrakan Beruntun Waktu Touring, Cegah Pakai Trik Diamond dan SENA

 

Tabrakan beruntun waktu touring adalah cerita ngeri yang biasa dibahas sama banyak rider. Niatnya sih liburan, tetapi malah jadi luka-luka di wilayah orang. Nah, sebenarnya kejadian semacam ini bisa dihindari.

 

Salah satu cara menghindari kejadian buruk tersebut dijelaskan sama Bro Hilmi, yang suatu kali datang ke DuniaMotor.com di Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur. Waktu itu, Bro Hilmi lagi pasang clamp kit–ini sepaket mikrofon dan dudukan buat modul SENA, alat yang biasa dipakai komunikasi dan mendengarkan musik atau radio di helm buat touring.

SENA jadi benda andalan Bro Hilmi dan rombongan rider teman-temannya waktu touring. Dari sana, tim bisa ngobrol, mendengarkan musik kalau bosan, bahkan sharing musik, dan terutama untuk berbagi informasi soal jalan di depan, obyek berbahaya, dan hal lain yang mesti dihindari atau diperhatikan.

“Rombongan biasanya semua pakai SENA. Memang efektifnya semua sama tipenya. Soalnya yang S30K bisa semua dan bisa (terhubung) 16 orang. Tapi kalau ada yang beda-beda, jadinya dibagi saja 4-4 orang. (Tiap empat orang ada satu kepala yang bisa berkomunikasi dengan SENA),” kata rider yang tinggal di salah satu kompleks elite di Jakarta Timur ini.

 

“Rombongan biasanya semua pakai SENA. Memang efektifnya semua sama tipenya. Soalnya yang S30K bisa semua dan bisa (terhubung) 16 orang”

 

Hal-hal umum yang sering kejadian juga waktu touring adalah ketinggalan. Ini juga terjadi di rombongan Bro Hil apalagi kalau jenis motornya beda-beda.

“Saya sebenarnya bebas saja motor di rombongannya apa. Yang sport ada. Yang skutik gede juga ada. Cuma biasanya yang skutik gede cenderung santai, sementara yang sport kan bawaannya mau gas terus,” kata dia usai mencocokkan letak clamp kit SENA di helm barunya.

Untuk menghindari rider tertinggal, selain komunikasi jalan terus via intercom SENA dan laporan pengawas belakang rombongan, Bro Hil dan teman-temannya biasanya menerapkan sistem khusus.

“Kalau terpaksa banget mungkin pisah grup dan ketemu di titik akhir. Tapi kalau masih bisa bareng, ya yang sport ganti-gantian aja gas, lalu balik ke rombongan,” urainya.

Nah, formasi yang diterapkan sama Bro Hil dan rombongannya cukup unik. Dia menyebut istilah tersebut dengan “diamond” atau rider-rider berada pada titik selang-seling sehingga membentuk diamond-diamond.

 

“Kalau saya biasa formasi diamond. Depan, belakang, kanan, dan kiri. Semua kasih informasi.”

 

“Kalau saya biasa formasi diamond. Depan, belakang, kanan, dan kiri. Semua kasih informasi. Yang kanan dan kiri ini baca tikungan, baca lubang. Yang depan mungkin sudah tahu (tikungan dan lubang) tetapi biasanya cenderung blind spot. Kalau yang belakang baca situasi, ini ada yang ketinggalan. Enggak mungkin kan (persoalan belakang) ini jadi konsentrasi yang depan,” kata dia.

Kenapa formasi “diamond” ini lebih efektif? Sebab, jarak antar-motor menjadi renggang. Pasalnya, sebagian rider kanan dan kiri–dan secara keseluruhan terbagi depan, belakang, kanan, kiri sehingga membantuk pola diamond-diamond.

“Kalaupuan ada yang jatuh, masih ada ruang buat yang lain untuk menghindar. Kalau jarak motor nempel-nempel, bisa begini jadinya (mencontohkan tabrakan beruntun),” kata Bro Hil.

Dalam formasi seperti ini, yang di kanan tetap di kanan. Begitu juga yang di kiri. Nanti kalau misalnya yang depan bilang ada sesuatu di depan, contohnya tikungan, yang di kanan atau kiri ini merapat.

“Ini enaknya waktu kondisi stabil 70 km/jam. Jadinya kondisi rombongan bisa termonitor semua. Seru sih,” ujarnya.

 

CEK HARGA SENA DI SINI